Konsientisasi Pendidikan
Oleh : Mohamad Hamim, S.Pd *)
Kurikulum Berbasis Kompetensi tidak berlaku lagi selagi belum banyak kalangan dapat “menikmatinya”, membandingkan kelebihan dan kekurangannya. Menyebut Guru belum siap mengikuti Kurikulum 2006 (Kompas, 9 Maret 2006) adalah kesimpulan yang terburu-buru, wong untuk kurikulum 2004 saja belum jelas arahnya, apalagi jika baru 1,3 % saja guru yang mengikuti pelatihan KBK Sementara, di kalangan guru mayoritas pergantian kurikulum hanya sekedar perubahan administrasi dan bukan esensi. Pembelaan terhadap kewenangan guru oleh anggota komisi X DPR, bahwa UN menghambat kreatifitas guru ( Kompas, 11 April 2006) telah lama dikumandangkan. Hasilnya ? UN tetap akan dilaksanakan.
“Kita telah menjadi latah, gampang meramaikan persoalan, tapi gampang juga melupakan” sekedar melewatkan momentum.
Kebetulan saja, saya masih tertarik dengan salah satu tokoh berpengaruh dalam pendidikan kritis, terutama gagasan tentang humanisasi pendidikan (pendidikan yang membebaskan). Tokoh itu adalah Paulo Freire. Akan tetapi bukan kebetulan jika saya menyoal (kembali) tentang salah satu ide besar beliau dengan alasan pertama, pendidikan yang masih saja direduksi maknanya dengan kegiatan belajar formal sehingga semakin memperkuat dominasi ( dalam berbagai bentuknya ) sekolah dalam upaya “pencerdasan” bangsa. Kedua, bahwa pendidikan pada kenyataannya bukanlah sesuatu yang benar-benar murni, ia dipengaruhi oleh kondisi kultur, sosial dan politik, sehingga intervensi kebijakan adalah hal yang “dianggap” lumrah. Ketiga, relasi yang tak adil (Subyek-obyek) pada akhirnya akan menyebabkan relasi yang tak demokratis, pelaku yang kuat akan menumpulkan kesadaran kritis pada pihak lainnya (tertindas). Berbagai kebijakan umumnya hanya bermakna intruksi yang mesti ditaati tanpa punya keberanian untuk mempertanyakan, mengkaji, dan berani menolak jika tidak sesuai dengan substansi, atau menerima secara sadar (bukan fatalistik).
Proses belajar adalah proses untuk menjadi orang yang sadar terhadap dirinya (learning to be), menyadari ada orang lain, serta diri adalah bagian dari alam/dunia sekitar. Berbagai kritikan yang terus ditujukan pada lembaga “pencetak kecerdasan” ini dari kapitalis, tirani, korup, sampai pada pembelajaran yang tidak berbasis realitas / anti realitas ( mengajari siswa menaiki puncak menara gading) menyodorkan kenyataan bagaimana proses pembelajaran selama ini berlangsung. Mengingat pentingnya kesadaran dalam pembelajaran, maka Paulo Freire mengemukakan konsep Konsientisasi dalam pendidikan.
Konsientisasi
Konsientisasi merupakan proses, di mana manusia mendapatkan kesadaran yang terus semakin mendalam tentang realitas kultural yang melingkupi hidupnya dan kemampuan untuk mengubah realitas. Ia merupakan proses untuk menjadi manusia sesungguhnya (manusia penuh). Menurut Freire, kesadaran manusia berkembang dalam tiga tahapan yang saling berkait. Kesadaran, magis, naif, dan kesadaran kritis.
Kesadaran magis (semi transitif) dicirikan pada sikap manusia yang menyerah begitu saja pada realitas (fatalitas) dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk merubah realitas itu. Ia menjalani aktivitas sekedar memenuhi rutinitas, kewajiban seiring tarikan nafas yang ada pada kordinasi pikiran bawah sadar. Ketika individu memiliki kemampuan untuk menanggapi realitas dan berdialog, maka ia telah beranjak pada kesadaran naïf (transitif). Namun kesadaran naïf ini masih memperlihatkan kepura-puraan, ia dicirikan oleh kecenderungan untuk menyederhanakan masalah, kurang argumentative – bahkan emosional. Kesadaran ini merupakan bagian dari kesadaran
Kesadaran kritis berkembang dalam suasana demokratis. Ia dicirikan pada kemauan untuk mendalami realitas, mengkaji dan menguji kebenarannya. Kesadaran ini menghormati hal-hal baru, menolak peran pasif, mentradisikan dialog dan argumentatif. Konsientisasi dengan demikian menyaratkan kultur yang demokratis, siap menerima perbedaan dan terbuka. Menjadi istimewa, bahwa Paulo Freire, meski banyak sekali pemikiran yang berpengaruh terhadap cara pandangnya (fenomenologi, Marxis, kristianisme, personalisme, eksistensialisme) ia terlibat langsung dalam usaha pembebasan masyarakat (miskin, tertindas) dalam rangka memperjuangkan timbulnya masyarakat baru, bukan berkebudayaan bisu (Culture of Silence) melalui filsafat pendidikan. Humanisme berarti keterlibatan radikal manusia dalam konsientisasi, dan proses dalam itu mensyaratkan untuk membebaskan dirinya menjadi dirinya, bukan orang lain (etre pour sei). Namun dalam kenyatannya, kita sering berkesadaran sebagai orang lain (mengada sebagai orang lain) atau bahkan keberadaan yang dipaksa struktur-sistem untuk menjadi orang lain.
Bayangkan, dalam pembelajaran kita masih memandang diri kita (pendidik) sebagai “abdi” yang dengan segala konsekuensinya mesti mengikuti-segala kebijakan yang telah ditentukan. Beberapa kali kita (guru) sering ditinggalkan dalam penyusunan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan (pembelajaran), namun mesti ikut (sebagai obyek) dalam praksis. Pelarangan penjualan buku di sekolah, yang telah sekian lama dibicarakan menyisakan berbagai persoalan di kalangan pendidik. Persediaan buku di perpustakaan yang terbatas, padahal proyek anggaran untuk penyediaan buku paket sangat besar, Wasingatu Zakiyah memaparkan tentang besarnya anggaran pemerintah untuk pengadaan buku paket, yaitu sebesar 35,89 miliar pada Tahun 2003. akan tetapi di beberapa sekolah buku-buku itu tak jelas wujudnya. Sering bergantinya kurikulum adalah sebagian kecil dari sesuatu yang kurang disadari secara kritis oleh pembuat kebijakan (pemerintah).
Kalangan kritisi, LSM, hanya sekedar melihat bahwa menjual buku berarti keuntungan bagi guru sekaligus melihat ketakmampuan guru dalam pengajaran, padahal berapa kali kesempatan guru dilibatkan dalam pelatihan yang benar-benar profesional, seperti pelatihan penyusunan buku atau bahkan mendapat kesempatan untuk belajar pada jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan, ternyata masih belum dipandang sebagai kebutuhan pokok seperti halnya memandang pentingnya kesehatan, sangat jarang sekali mendengar kritikan yang ditujukan pada profesi dokter yang tarif berobat sekali saja terkadang sama dengan penghasilan kerja keras sebulan, masyarakat tak perlu tahu perhitungannya karena tak mau ambil resiko dengan nyawa. Guru mengadakan les tambahan / privat, mengelola bimbingan belajar dipandang komersialisasi ilmu, sementara mahalnya obat dokter tak pernah (jarang) dipermasalahkan.
Saya tidak menyemburui profesi lain dan tidak mutlak membenarkan profesi lain (guru), namun sekedar menunjukan bahwa kesadaran berbagai pihak masih pada kesadaran naïf, bahkan magis di mana dialog belum dibudayakan. Kalangan guru kaget – atau bahkan diam membisu (silence) berkaitan dengan pelarangan buku, yang efektifitasnya dipertanyakan karena tidak dibarengi dengan kebijakan pendamping untuk mengatasi masalah buku, apalagi berita kebocoran dana pengadaan buku jelas diketahui masyarakat luas. Sertifikasi guru, yang belum jelas (sebab sosialisasinya diperoleh lewat seminar yang tidak gratis) memaksa guru-guru SD untuk melanjutkan kuliah demi mendapatkan tunjangan profesional, yang belum jelas juga.
Jika demikian, maka ujung dari obyek penderita ini adalah siswa. Mereka adalah pihak yang jarang untuk diajak dialog (dengan segala bentuknya, kecuali rutinitas formal) untuk memiliki kesadaran kritis. Relasi yang masih belum berimbang dan adil semakin memperkokoh posisi masing-masing dan perlahan menyadari (magis) sebagai pihak yang lemah dan dominasi kekuasaan pada pihak lain. Paulo Freire muncul dari negara yang kultur masyarakatnya piramidal, kalangan minoritas sebagai pemegang puncak kebijakan dan mendominasi, menghegemoni kesadaran naifnya pada kalangan mayoritas bawah. Relasi inipun saya pikir ada cocoknya untuk menggambarkan strata kekuasaan dalam pendidikan kita. Kalangan mayoritas (masyarakat) masih merasakan ketakberdayaan dalam mengatasi persoalan pendidikan murah dan berkualitas, sementara guru sebagai pelaku pendidikan di tingkat bawahpun jarang diajak dialog dalam penetapan kebijakan. Konsientisasi pendidikan bukanlah masalah sederhana, karena berkaitan dengan kesadaran yang akan menentukan bentuk praksis perilaku-kebijakan, sehingga kebiasaan untuk dialog – bukan polemik, memandang setara berbagai pihak, kemauan berubah – bukan bisu, dan adanya jaminan keamanan adalah hal minimal untuk tercapainya perjalanan proses kreatif dan kritis, ini mendesak disadari berbagai pihak.
Wallahu a’lam bisshowab
*) Guru Kimia SMA Negeri 1 Kandanghaur - Indramayu
Ketua LKPES – IKMINDRA Indramayu
35 comments:
pa, jujur, bli ngarti..
Nah ni yang gua demen dari Pa Hamim. Tulisannya dalem banget...
Tapi yang pasti sepanjang Pemerintah terlalu dalam ikut campur (atau mencampuradukkan Pendidikan dengan kepentingan Politis???)pendidikan bangsa kita akan semakin tertinggal...Ga usah dulu ngejar SIngapura atau Malaysia...ma Vietnam aja kita mungkin sudah mulai keteteran nih... Is that correct, Bro???
misterwaper
Hei Miftah ..Loe mesti banyak baca !!! malu2in aja nih mahasiswa
wah p hamim tulisanya bgus bgt
uha jd gmn g2
pa msti di ksh k para pembuat kbjkn tuh
Assalamu'alaikum! Pak Hamim.
Salam kangen buat Bapk/Ibu Guru semua. Akhirnya.. ketemu jg media buat kita sharing2 n inget2 masa SMA dulu, n alhamdulillah bs liat fto Bpk/Ibu guruku yg cakep2 n cantiq2.
Tp Pak, sy liat info di jardiknas kalo sekolah kita statusnya SWASTA
sy liat di situs :
NPSN Jardiknas No. 46.
Wassalam,
Windhu
Memang... selama pemerintah (terutama sing bagian pendidikan[dinas pendidikan dan sesuatu yang terkait..maksude]) masih ribut soal kurikulum sing ora jelas maka sampe taun burutpun pendidikan di negeri kita ga akan maju...
semoga sman1 kandanghaur termasuk golongan sing bisa memajukan pendidikan di dunia...
(muride sampean sing gantenge ora kejagan)
gf
asalamuailaikum...
pada ngomongin pendidikan n politik
gada habis-habisnya.. mulai politik yang bertanda "
di SMA kdh kuh akeh politik ber tanda " hehehe...kata anak sma kdh
sma kdh itu bnyak omongnya gada buktinya.........duh udah lupain aja
ini ada keluhan dari amak-anak tentang janji2. salah satunya ajalah
kapan praktek komputer gak jalan2? macet? janjinya mana?
dan kapan ujian dapar\t sertifikat komputer???? katanya dapet sertifikat komputer???
bapak latif pernah bialng padahal waktu pertama banget...
katanya gini....
kalian nanti dapet sertifikat komputer dari ciri\ebon kalau nantu kalian udah lulus.....?
sampain sekarang mana? ok si kita belim lulus... tapi kasi kabar dunk.......
uhuhuhuHHH!!!!!!!!!!!!
Sekolah di Kandanghaur itu bagus ci bagus,
tapi fasilitasnya kurang.
g mn ga kurang, internet z ga da,
ms kalah sama SMA2 laen
bayar ci mahal tapi uangnya pada kemana Pak, Bu?????????????
By, desi C. R XII IPS-1
Pak, Bu DSP bulanan jangan mahal2
msa ci dah klz 3 uang bangunan mci
d mintain zzzzzzzzzzzzzz
By, Nurida R.S XII ips-1
pa. . .bantu n Doa_n UN Yaaaa. .
supaya lulus semua. .
Blog SMANKA keren abiz...
pa.. tambahin dunx... foto-foto gurunya.
o'y bantu dan doain UN ya pa...biar lulus semua
novia XII A4
Selamatkan Hutan Kita
Putri Yulia CD XII IPA 2
seharusnya Eskull scul kita ntu...
di tingkatkan khususnya eskull komputer.....
kita kan dah bayar mahal2.....
knp eskull na ga di operasikan dengan baek.........
By, siti. A XII IPS -1
Pa, bu wat tahun depan bayaran dikurangi
jangan mahal2.....
pa, bu wat tahun depan bayaran dikurangi
jangan mahal2,,,,,,,,,,,
By, casriyah XII IPS -1
uang kami dikemanakan.....
selama ada les komputer,,,,,,
kan tiap bulan kita2 bayaran 85....
tapi ko selam kita bayaran 85 cuma 2 kali les komputer
padahal dari klz 2 kita bayaran.........
dikemanakan uang2 kita??????????????
By, selly XII ips -1
Aduh .........
Bentar lagi UN .....
Doakan moga semua lulus.....
aku bangga banget sekolah di smanka.....
sangat bagus sekali,, tp komentnya terlalu pait2!!! buat pa edwar kalau ngulang jgan marah terus!!
PA KIEN KUH LAGI JAJAL,CAKE STENLI KENAL ORAH
stenly dominggus aipasa
x11 IPA 2
assalamualaikum...buat keluarga besar SMAN I KANDANGHAUR do'a kan kami anak kelas3 yang akan menghadapi UN Semoga kami semua LULUS..Amien...buat guru2 dan teman2 tonk he love sareng abdi yach..?!buat adik2 kelas ku semangat terus yach..?!allahuakbar2..allahuakbar2
assalamualaikum....
buat kelas XII khususnya Ipa3 harus selalu semangat yach..?!dan don't forget me By Sulastri XII IPA3
Assalamu"alaikum.......
Bapa-bapa, ibu-ibu guru jeung ade2 ku do"akan kami yua anak - anak kelas 12 agar kami semua lulus yua......Amiiiiiiiiin
sman i kdh its the best tpi bayarannya mahal d bandingkan dgn yg lain boooooo
smanka its the best but fasilitasnya kurang memadai kalah dgn yng lain tak seharum namanya
wis bae lah apa jare kono
kitamah sing penting gelis metu sing leng buaya
aja kesuwen bokatan jadi wadale smanekadh
lulus lulus lulus gagian kawin, aja kesuwen bokatan bli keduman lanang
yulia rahman xii ips 1
Buat guru2 bantuin kami ya moga UN Tahun ini lulus semua.
SMANKDH,smoga tetap berjaya dan maju truz.................
ZZZZZZZzzzzzzzz jngn tdr mlulu realisasikan suara siswa
meggy XII ips 1 anti mati gaya
lu ga gaya ke laut aje, mati aje lo
SMANKDH,smoga tetap berjaya dan maju truz........
dan bisa mewujudkan visi INDRAMAYU REMAJA
Assalamualaikum.........
yupz..bwat smwa master teacher smankdh...ttplah smngat mendidik siswa-SISWA tercintanya.....
uhm, ichwaooww....fto-ftoNya kreendz bwgtzzzz.........
nweh dari Wahyuni, klz XII IPA1.....
Aduh. . .
TrYt ga di scoll q ja, yg msi ky gn!. . .
Dah lah. . .
Kt nglah lo msi bs bljr kmpter pa d! Lwr bljr ndri ja. . .
Ushain dri kt lbih mju dgn cra kt ndr!!
Oya pa mksi dah ngnjngin blog kt. . .
Tu tu bkn blog scoll tp blog klz X11A2. . .
Jd gru ga pY hak bwt posting.
Oya pa hamim tuh suwmi bu dewi ya?!
Q jg mridY
Yo donk. . .
Bis UN blogY d! Prbaiki lg!. . .
Trz Q mnta krtik yg mmbngun bwt blog q!!
Posting Komentar